Terdegup seketika, ketika seseorang menghampiriku dengan wajah berseri dan baju putih yang digunakannya. Langkah demi langkah dimulai ketika ia berjalan dengan perasaan was-was. Ketika ia menghampiri, ia cukup berani mengutarakan bahwa ia akan pulang sesegera mungkin. "Aku harus pulang dulu, ya" lontarnya sedikit gugup dengan senyuman kecil di bibirnya. Kepulangannya tak membuatku surut untuk melakoni kegiatan yang masih harus kulakukan ketika itu.
Salah satu rekanku yang berusia satu tahun lebih muda denganku ketika kejadian tersebut berlangsung bertanya "Siapa dia kak? Apakah dia kekasih kakak?"
Seketika itu aku tertawa dengan sedikit kutahan. "Aku harus menyebutnya dengan sebutan apa? Dia sangat baik, penyabar, bahkan hampir tak pernah marah kepadaku." ujarku.
"Umm, berarti dugaanku benar, itu kekasih kakak." kata adik kecil itu.
"Orang yang sangat sangat menyebalkan itu? Apa mungkin dia kekasihku" lontarku dengan senyuman kecil sedikit malu.
"Ahh yang benar saja kak, dia pasti kekasih kakak bukan?!" ujarnya dengan tertawa puas dan menyorotkan matanya kepadaku.
"Bukan, dia bukan kekasihku." jawabku sedikit serius.
"Lalu, kalau bukan kekasih kakak, mengapa ia menyempatkan diri berpamitan dengan kakak ketika ia hendak pulang? Pasti ia kekasih kakak." ujarnya dengan sedikit perasaan ngotot dan kesal.
"Apakah ia tampak seperti kekasihku?"
"Tentu saja." ujar adik kecil dengan hiasan sedikit mimik kesal di wajahnya.
Ketika itu, aku sejenak terdiam. "Haha, not just a boyfriend, but the arrows, hope and shelters" jawabku dengan tertawa malu.
"Kenapa kakak sebegitu rumitnya untuk menjawab pertanyaanku yang hanya terdiri dari 4 kata saja. Hfft"
"Pertanyaanmu itu memang hanya butuh sedikit kata saja untuk membentuknya, tapi sulit bagiku melontarkan siapa dia sebenarnya bagiku. Banyak arti, banyak makna."
Lalu, adik kecil itu seketika menatapku dan tersenyum dengan wajah puas dan lega.
Saat kami sedang bertatap mata, rekan-rekan yang lain mengampiri kami dengan wajah bergulir perasaan gugup dan tergesa-gesa. Ternyata kami harus menyelesaikan pekerjaan kami yang sempat tertunda karena dialog kecil itu.
Waktu terus bergulir, pria dengan baju putih usang itu telah melukiskan banyak cerita dan makna.
No comments:
Post a Comment